Berita cukup mengejutkan datang dari tabanan dimana telah dinikahkan secara hindu pasangan gay (homo sexual). tentu saja hal ini membuat kita terkejut. dimana aturan tentang homosexual dalam agama hindu jarang sekali ada literaturnya.
dan tentu saja masalah homo sexual ini adalah masih dalam perdebatan antara etis tidaknya seseorang menjadi gay. mungkin dalam pandangan orang-orang hindu yang toleran masalah gay tidalah menjadi masalah besar, karena itu menyangkut karma orang itu sendiri. akan tetapi akan menjadi masalah bila sesuatu hal yang belum ada ketetapannya dilaksanakan dan didukung oleh lembaga yang berkompeten.
dalam berita di balipost disebutkan bahwa mereka sudah memegang sertifikat sudiwadani yang merupakan sertifikat dimana seseorang secara sah memeluk agama hindu. jadi itu bukan sertifikat perkawinan.
sedangkan perkawinan secara hindu menurut pandangan saya dimana harus ada sepasang manusia yang bertindak sebagai purusha dan pradana. dalam hal ini untuk kaum gay mungkin mereka bisa menunjuk salah satu pasangannya sabagai purusha atau predana. tapi dalam hal ini purusha (lak- laki) dan pradana (perempuan) cukuplah jelas bahwa yang melakukan perkawinan adalah laki dan perempuan.
tapi dalam konsep yang lebih luas purusha dan predana adalah wujud dari sesuatu yang berlawanan sehingga tercipta berbagai dinamika kehidupan.
jadi yang perlu ditanyakan disini apakah perkawinan itu sah secara hindu ? atau hanya diupacarakan secara hindu ? bagaimana dengan pemuput acara apa yang ada dibenak mereka sehingga mau memumput perkawinan sesama jenis?
jadi kesimpulan saya ini adalah sebuah hal yang menurut saya pribadi adalah hal yang kontroversial. sehingga diperlukan jawaban tegas dari sulinggih tetua dan dari phdi, sebagai pembimbing umat, agar hal ini tidak terulang kembali.
kalau ada yang tau asal usul dari perkawinan ini mohon diberikan info dan kejelasan. atau bagi sulinggih yang kebetulan membaca mohon bimbingannya.
Update Terakhir:
ini bukanlah acara pernikahan, tetapi acara pindah agama, mulai dari mecolong, dan potong gigi, bukan merupakan upacara pernikahan. jadi kesimpulannya wartawan detik dan balipost cuma asal kutip saja dari routers, yang anehnya itu adalah media luar negeri sedang balipost sendiri kenapa tidak konfirmasi dulu sebelum memberitakan, padahal dia adalah koran lokal bali.
cukup bikin pusing neh.
– peace.



ini membuat saya bingung, saya di serang habis… tapi sejauh ini dalam hidup saya mempelajari hindu tak ada satupun pemebanaran dalam hal ini. jelas di sebutkan bahwa perkawinan itu hanya ada pria dan wanita. trus dalam konteks budaya bali satupun tidak ada pembenaran atas hal ini. trus kenapa ini bisa terjadi, siapa yang memberikan ijin atas hal ini??? trus di situs phdi ga ada untuk kolom bertanya tentang hal ini. bener2 membuat kita bingung aja sama kelakuan pandita yg mumput. adakah money orriented atas pembenaran hal ini.
@ade, barangkali ini bisa menjelaskan jaman kaliyuga. jadi kita tunggu saja tanggapan dari para sulinggih, dan kepada para sulinggih yang sering dharma wacana di tv, tolong berikan kami umat kejelasan.
Sudiwadani memang surat tanda memeluk Hindu, tetapi kenapa Bule tsb memilih agama Hindu di bali? mungkin karena menurut mereka Bali merupakan tempat yang bebas, gampang terbuai dengan dollar. Ah, apapun itu saya menyayangkan sekali bagi pandita nya dan warga setempat. Kenapa mereka menyetujui pernikahan ini? Dimana Ajeg Bali??
Pantesan bacanya bingung juga, Kenapa menunjutkan surat “Sudiwadani” bukan surat perkawinan. he.. ternyata upacara “mecolongan” artinya upacara lahir sebagai Hindu.
Thanks.. updatenya
tolong buat warga bali atau warga hindu bisa mengkonfirmasi lebih pasti apakah 2 bule itu menikah atau pindah agama sebagai hindu karena media2 kurang memberitakan secara jelas, thx
ternyata balipost amat ceroboh, angkat berita dari reuters tanpa di chek. padahal kan depasar tabanan amat dekat. sekarang semua sudah jelas, mereka hanya pindah agama doank dan suratnya pun udah di lihatin ke media, cuman surat perpindahan agama. nih beritanya: http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=2&id=6231
http://www.beritabali.com/index.php?reg=&kat=&s=news&id=200810160004
http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=2&id=6231 <– saya rasa link itu cukup untuk menjelaskan. bahwa wartawan routers mengakui terjadi kesalahan, dan wartawan dari media-media lain sebagian besar mengutip dari routers. yang benar adalah acara sudiwadani (masuk agama hindu) dan acara potong gigi.
Wadhuh!!! kayaknya demi dolar….
aturan agamapun …lewat!!!!!! Damn!! Pulau maksiat!!!
Betul, mohon jangan langsung memvonis yang miring dulu, tetapi memang lebih mudah mencibir seperti otak kita yang kurang waras dan mudah melihat yang buruk2 saja. Ini ada petikan dari Pengurus PHDI Pusat. Semoga bermanfaat:
http://cyberdharma.net/v1/index.php?option=com_content&view=article&id=50:phdi–tidak-ada-pernikahan-gay-di-bali&catid=1:cybernews&Itemid=3
@Ninko, Thanks atas hujatannya ke pulau kelahiran saya bali, tetapi anda spt nya tidak membaca update berita diatas. bahwa “tidak ada perkawinan gay di bali”
jadi hujatan anda saya terima sebagai kritik bagi pulau bali, yang memang saya akui perlu untuk dipikirkan bersama cara untuk memajukan pulau ini.
terimakasih.
So.. everything should be started from positive thinking… ya toh..
Peace….
Heboh juga ya berita ini, kalo mau lihat difotonya tuh, yangmereka bawa jelas bukan akte nikah, lha wong fotonya sendirian kok, seperti yg saya punya akte nikah umat Hindu ada foto suami istri, sepertinya yg buat berita tuh perlu belajar bahasa yg baik dan benar.
@Ninko perlu juga tuh belajar bahasa yg baik dan sopan