Karmaphala & Punarbhawa : bernafas merupakan suatu karma

sesi satu dari buku karmaphala dan punarbhawa yang berisi dialog tanya jawab antara murid dan guru, berikut isinya:

Murid: Guru katanya semua perbuatan adalah karma, apakah bernafas merupakan suatu karma juga?

Guru: Pada hakekatnya semua kerja, baik secara sadar maupun tidak sadar, lebih lebih lagi pekerjaan yang dilakukan dengan pikiran, perkataan, dan perbuatan adalah karma.

orang bernafas, jantung berdetak, mimpi dam sebagainya adalah termasuk  karma, yang memberikan hasil dan akibat. apabila jantung  berhenti berdetak, seluruh kehidupan tubuh akan lumpuh. mimpipun mempunyai akibat dalam pikiran, sehingga orang menafsirkan arti mimpi.

walaupun demikian karma dalam praktis sehari hari adalah semua pikiran, perkataan, dan perbuatan yang dilakukan dengan sadar. karma karma yang sedemikian akan menghasilkan suka dan duka, kebahagian dan penderitaan yang dapat dirasakan dengan sadar pula.

catatan saya: menurut saya semua kegiatan kerja adalah karma. spt diulas diatas, apabila secara sadar kita lakukan, maka suka dan duka yang dirasakan dengan sadar pula.

Tunggu, ulasan selanjutnya…

shanti

BERUPACARA DENGAN BIAYA MURAH

 

Barusan abis ngobrol-ngobrol dengan teman, tentang upacara, kebetulan minggu depan saya mau ngeadakan upacara tutug kambuhan anak saya, dan teman saya kebutulan juga saudaranya punya anak, yang akan melaksanakan upacara jg (kepus pusar). jadi dia melihat bahwa upacara yadnya ini (manusia yadnya) dalam keluarganya dan mungkin menurut saya sebagian besar keluarga-keluarga hindu di bali. manjadi beban, sehingga muncullah perselisihan tentang biaya. dan besar kecilnya upacara, kadang permasalah ini menimbulkan pertengkaran kecil dalam keluarga, sehingga makna dari yadnya itu sendiri menjadi terabaikan. benar atau tidak, tapi sebagian besar keluarga-keluarga hindu di bali mengalami dilema seperti ini. jadi mudah-mudahan ditemukan pemecahannya.

oh ya dibawah ini ada tulisan dari ida bhagawan dwija tentang berupacara dengan biaya murah yang saya ambil dari situs stiti dharma, bukan maksud saya untuk copy paste (karena saya belum minta ijin sebelumnya kepada pihak stitidharma), tapi hal ini saya lakukan hanya untuk menyebarluaskan tulisan yang cukup menyejukan ini. sehingga bisa di baca oleh umat sedharma di bali. 

Continue reading

Bhisama PHDI tentang catur warna

 

Berikut ini bhisama PHDI tentang catur warna, kenapa saya post disini, biar rekan-rekan tau saja dan bisa merenungkannya kembali. untuk link lengkapnya ada disini, dan ada juga di blogroll, karena ini penting bagi umat hindu, terutama yang dibali.

BHISAMA SABHA PANDITA

PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA PUSAT
Nomor : /Bhisama /Sabba Pandita Parisada Pusat/X/2002

Tentang

PENGAMALAN CATUR WARNA

Atas Asung Kertha Wara Nugraha Hyang Widhi Wasa
Pesamuhan Sabha Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat

Menimbang:

Bahwa Sabha Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat memiliki kewenangan untuk mengeluarkan Bhisama sesuai dengan Anggaran Dasar Parisada Hindu Dharma Indonesia yang ditetapkan dalam Maha sabha VIII tahun 2001 di Denpasar, Bali. 

Bahwa Catur Vama adalah ajaran tentang pembagian tugas dan kewajiban masyarakat berdasarkan “guna” (bakat) dan “Karma” (kerja) yang sesuai dengan pilihan hidupnya. 

Bahwa di dalam sejarah perkembangan agama Hindu telah terjadi penyimpangan pengertian ajaran tentang Catur Varna menjadi Kasta atau Wangsa yang berdasarkan atas kelahiran (keturunan/keluarga) seseorang. 

Bahwa untuk meluruskan pemahaman dan pengamalan Catur Warna yang menyimpang selama ini, maka dipandang perlu menetapkan Bhisama Tentang Pengamalan Catur Varna tersebut  
Continue reading

Hindu Bali, Hindu Jawa Perbedaan Yang Indah.

Om swastiastu,

Judulnya cukup berat, tapi saya akan coba menggambarkan mengapa perbedaan dalam agama hindu di Bali dan di pulau Jawa adalah sebuah keindahan. karena ini berdasarkan pengalaman saya yang baru datang dari jawa, menghadiri pernikahan kakak saya (orang bali beragama hindu) dengan orang jawa yang beragama hindu pula.

dalam acara kemaren itu, saya dan keluarga sebagai orang hindu dibali tentu ke jawa dengan pakaian adat khas bali (karena kami orang bali), sebelum berangkat kami ngaturang pekeling dan nunas tirtha (memohon tirtha untuk dibawa ke jawa), di merajan.
Continue reading