Bhisama PHDI tentang catur warna


 

Berikut ini bhisama PHDI tentang catur warna, kenapa saya post disini, biar rekan-rekan tau saja dan bisa merenungkannya kembali. untuk link lengkapnya ada disini, dan ada juga di blogroll, karena ini penting bagi umat hindu, terutama yang dibali.

BHISAMA SABHA PANDITA

PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA PUSAT
Nomor : /Bhisama /Sabba Pandita Parisada Pusat/X/2002

Tentang

PENGAMALAN CATUR WARNA

Atas Asung Kertha Wara Nugraha Hyang Widhi Wasa
Pesamuhan Sabha Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat

Menimbang:

Bahwa Sabha Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat memiliki kewenangan untuk mengeluarkan Bhisama sesuai dengan Anggaran Dasar Parisada Hindu Dharma Indonesia yang ditetapkan dalam Maha sabha VIII tahun 2001 di Denpasar, Bali. 

Bahwa Catur Vama adalah ajaran tentang pembagian tugas dan kewajiban masyarakat berdasarkan “guna” (bakat) dan “Karma” (kerja) yang sesuai dengan pilihan hidupnya. 

Bahwa di dalam sejarah perkembangan agama Hindu telah terjadi penyimpangan pengertian ajaran tentang Catur Varna menjadi Kasta atau Wangsa yang berdasarkan atas kelahiran (keturunan/keluarga) seseorang. 

Bahwa untuk meluruskan pemahaman dan pengamalan Catur Warna yang menyimpang selama ini, maka dipandang perlu menetapkan Bhisama Tentang Pengamalan Catur Varna tersebut  

Mengingat :

Ketetapan Mahasabha VIII Parisada Hindu Dharma Indonesia Tahun 2001 Nomor: 1/Tap.M.Sabha/VIII/ 2001 tentang Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Parisada Hindu Dharma Indonesia.

Ketetapan Maha Sabha VIII Parisada Hindu Dharma Indonesia Nomor: II/TAP/M.Sabha/VIII/2001 tentang Program Kerja Parisada Hindu Dharma Indonesia

Memperhatikan :

Usul-usul Sabha Walaka dan hasil pembahasan Sabha Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat pada Pesamuhan Agung Tanggal 26-27 Oktober 2002.

MEMUTUSKAN

Menetapkan :

BHISAMA SABHA PANDITA PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA PUSAT TENTANG PENGAMALAN CATUR VARNA SESUAI DENGAN KITAB SUCI VEDA DAN SUSASTRA HINDU LAINNYA

Pertama: Catur Varna adalah ajaran agama Hindu tentang pembagian tugas dan kewajiban masyarakat atas “guna” dan “Kama” dan tidak terkait dengan Kasta atau Wangsa. 

Kedua: Bhisama tentang Pengamalan Catur Vama ini sebagai pedoman yang sepatutnya dipatuhl oleh seluruh umat Hindu. 

Ketiga: Menugaskan kepada Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat untuk memasyarakatkan Bhisama Tentang Pengamalan Catur Varna ini, beserta penjelasannya dalam lampiran Bhisama ini kepada scluruh umat Hindu di Indonesia. 

Keempat: Apabila ada kekeliruan dalam Bhisama ini akan diperbaiki sebagaimana mestinya. 

Kelima:  Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Bhisama ini disampaikan kepada Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat untuk dilaksanakan.

Ditetapkan di : Mataram, NTB

Pada Tanggal : 29 Oktober 2002 

Dharma Adhyaksa: Ida Pedanda Gede Ketut Sebali Tianyar Arimbawa
Wakil Dharma Adhyaksa: Ida Pandita Mpu Java Dangka Suta Reka

 

Lampiran

BHISAMA SABHA PANDITA PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA PUSAT
Nomor : 03/Bhisama /Sabha Pandita Parisada Pusat/X/2002

Tentang Pengamalan Catur Vama

PENGAMALAN CATUR VARNA

A. Latar Belakang. 

Sudah merupakan pengertian umum babwa ajaran Catur Varna yang bersumber pada wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang terhimpun dalam kitab suci Veda dan kitab-kitab susastra Veda (Hindu) lainnya adalah ajaran yang sangat mulia. Namun dalam penerapannya terjadi penyimpangan penafsiran menjadi sistem Kasta di India dan sistem Wangsa di Indonesia (Bali) yang jauh berbeda dengan konsep Catur Varna. Penyimpangan ajaran Catur Varna yang sangat suci ini sangat meracuni perkembangan agama Hindu dalam menuntun umat Hindu selanjutnya. Banyak kasus yang ditimbulkan akibat penyimpangan itu yang dampaknya benar-benar merusak citra Agama Hindu sebagai agama sabda Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan agama tertua di dunia. 

Perjuangan untuk mengembalikan kemurnian ajaran Catur Varna itu sudah banyak dilakukan oleh sebagian umat Hindu. Perjuangan itu dilakukan baik oleh para cendekiawan maupun lewat berbagai organisasi/lembaga keumatan Hindu. Meskipun sangat alot namun perjuangan untuk mengembalikan kebenaran ajaran Catur Varna itu sudah menampakkan hasilnya. Seperti dalain bidang pemerintahan, politik, ekonomi dan hukum semakin nampak adanya kesetaraan. Justru dalam bidang keagamaan dan sosial budaya seperti pergaulan dalam kemasyarakatan membeda-bedakan Wangsa atau Soroh itu masih sangat kuat. Dalam bahasa pergaulan sehari-hari sangat tampak adanya penggunaan sistem Wangsa yang salah itu, dipakai oleh umat Hindu. Demikian pula dalam bidang keagamaan dan adat istiadat membeda-bedakan Wangsa itu masih sangat kuat. Hal itu menjadi sumber konflik yang tiada putus-putusnya dalam kehidupan beragama umat Hindu di Indonesia (khususnya di Bali). Wacana dari berbagai kalangan umat Hindu semakin keras untuk kembali ke ajaran Catur Varna, oleh karena itu dalam Maha Sabha VIII Parisada Hindu Dharma Indonesia bulan September 2001 di Denpasar telah mengusulkan adanya penetapan Bhisama Tentang Catur Warna ini. Usulan itu didahului oleh berbagai seminar dan diskusi-diskusi. Seminar dan diskusi itu diadakan oleh Parisada maupun oleh Orinas dan lembaga-lembaga umat Hindu.  

Hampir setiap seminar dan diskusi ada usulan untuk kembali kepada sistem Catur Varna dengan melepaskan dominasi sistem Wangsa. Tujuan ditetapkannya Bhisama Catur Varna untuk mengembalikan secara bertahap agar proses perubahan meninggalkan sistem Wangsa yang salah itu menuju pada sistem Catur Varna lebih cepat jalannya. Sistem Wangsa agar dipergunakan hanya untuk Pitra Puja dan untuk berbakti kepada leluhur dalam menumbuhkan rasa persaudaraan di intern wangsa itu sendiri. Sistem Wangsa hendaknya diarahkan untuk mengamalkan ajaran Hindu yang benar dalam kontek kesetaraan antar sesama manusia. Sistem Wangsa itu tidak dijadikan dasar dalam sistem pergaulan/adat-istiadat sehari-hari. Seperti sistem penghormatan dalam pergaulan sosial/adat-istiadat.  

Menurut pandangan Hindu sesungguhnya semua umat manusia bersaudara dalam kesetaraan (Vasudeva kutum bakam). Demikian juga pandita dalam swadharmanya memimpin upacara tidak memandang dari asal usul Wangsa seseorang. Seorang setelah melaksanakan upacara Diksa menjadi pandita sudah lepas dari ikatan Wangsanya. 

B. Pengertian dan Fungsi Ajaran Catur Varna Menurut Kitab Suci Veda

Tujuan hidup menurut ajaran Agama Hindu sebagaimana dinyatakan dalam kitab Brahma Purana 228.45.Dharma artha kama moksanam sarira sadanam, artinya: badan (Sarira: Sthula, Suksama dan Antakarana Sarira) hanya dapat dijadikan sarana untuk mencapai Dhanna, Artha, Kama dan Moksa. Inilah yang disebut Catur Purusha Artha atau empat tujuan hidup. Untuk mencapai empat tujuan hidup manusia itu harus dicapai secara bertahap. Dalam Agastya Parwa dinyatakan bahwa empat tujuan hidup itu dicapai secara bertahap menurut Catur Asrama. Tahap hidup Brahmacari diprioritaskan rnencapai Dharma, tahap hidup Grhastha diprioritaskan mencapai Artha dan Kama, sedangkan dalam tahap hidup Vanaprastha dan Sannyasa Asrama tujuan hidup diprioritaskan mencapai Moksa. 

Untuk mewujudkan empat tujuan hidup dalam empat tahapan hidup (Catur Asrama) itu dibutuhkan empat jenis profesi yang disebut Catur Varna. Dalam kitab suci Yajurveda XXX.5 dinyatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa menciptakan empat profesi atas dasar bakat dan kemampuan seseorang. Brahmana Varna diciptakan untuk mengembangkan pengetahuan suci, Ksatriya untuk melindungi ciptaan-NYA, Vaisya untuk kemakmuran dan Sudra untuk pekerjaan jasmaniah. Dalam mantra Yajurveda XXX.11 dinyatakan Brahmana Varna diciptakan dari kepala Brahman, Ksatriya dari lengan Brahman,Vaisya dari perut-Nya dan Sudra dari kaki-Nya Brahman. Jadi semua Varna itu diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Keempat Varna ini memiliki kemuliaan yang setara. Hal ini dinyatakan dalam mantra Yajurveda XVIII.48 untuk memanjatkan puja kepada Tuhan Yang Maha Esa, Brahmana, Ksatriya, Vaisya dan Sudra sama-sama diberikan kemuliaan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Keempat Varna itu akan mulia kalau sudah mentaati swadharmanya masing-masing. 

Dalam Bhagavadgita IV.13 dan XVIII.41 dengan sangat jelas dan tegas bahwa untuk menentukan Varna seseorang didasarkan pada Guna dan Karmanya. Guna artinya minat dan bakat sebagai landasan terbentuknya profesi seseorang. Jadinya yang menentukan ” Varna” seseorang adalah profesinya bukan berdasark-an keturunannya. Sedangkan Karma artinya perbuatan dan pekerjaan. Seorang yang berbakat dan punya keakhlian (profesi) di bidang kerohanian dan pendidikan serta bekerja juga di bidang kerohanaian dan pendidikan itulah yang dapat disebut ber “varna” Brahmana. Demikian juga orang yang dapat disebut ber ” varna” Ksatriya adalah orang yang berbakat dan punya keakhlian di bidang kepemimpinan dan pertahanan. Orang yang berbakat di bidang ekonomi dan bekerja juga dalam bidang ekonomi ialah yang dapat disebut Vaisya. Sedangkan orang yang hanya mampu bekeda hanya dengan menggunakan tenaga jasmaninya saja karena tidak memiliki kecerdasan disebut Sudra. 

Menurut Manawa Dharmasastra X.4 dan Sarasamuscaya 55 hanya mereka yang tergolong Brahmana, Ksatriya dan Vaisya Varna saja yang boleh menjadi Dvijati (pandita). Sudra tidak diperkenankan menjadi Dvijati karena mereka dianggap hanya mampu bekerja dengan mengandalkan tenaga jasmaninya saja, tanpa memiliki kecerdasan. Dvijati harus memiliki kemampuan rohani dan daya nalar yang tinggi, oleh karenanya Swadharma seorang Dvijati adalah sebagai Adi Guru Loka atau Gurunya masyarakat. Namun untuk mendapatkan tuntunan kitab suci Veda semua Varna berhak dan boleh mempelajarinya termasuk Sudra Varna. Hal ini ditegaskan dengan jelas dan tegas dalam mantra Yajurveda ke XXV.2. 

Vama seseorang tidak dilihat dari sudut keturunannya, misalnya kebrahmanaan seseorang bukan dilihat dari sudut ayah dan ibunya, meskipun ayah dan ibunya seorang pandita atau rsi yang tergolong ber “Varna” Brahmana, belum tentu keturunannya menjadi seorang Brahmana, seperti halnya Rawana, kakeknya, ayah dan ibunya, adalah rsi yang terpandang, namun Rawana bersifat raksasa. Prahlada di dalam kitab Bhagavata Purana disebut sebagal anak dari raksasa bemama Hiranya Kasipu, namun Prahlada adalah seorang Brahmana sangat taat beragama meskipun ia masih anak- anak. Varna seseorang tidak ditentukan oleh keturunannya ini dijelaskan dengan tegas dalam kitab Mahabharata XII. CCCXII,108 bahwa ke “Dvijati”an seseorang tidak ditentukan oleh ke “wangsa”annya (nayonih), yang menentukan adalah perbuatannya yang luhur dan pekerjaanya yang memberi bimbingan rohani kepada masyarakat.

C. Menegakkan sistem Catur Varna. 

Untuk mengembalikan sistem Catur Varna dalam masyarakat Hindu di Indonesia haruslah ditempuh langkah-langklah sbb:

 1. Umat Hindu harus diajak secara bersama-sama untuk menghilangkan adat-istiadat keagamaan Hindu yang bertentangan dengan ajaran Catur Varna, khususnya dan ajaran agama Hindu pada umumnya. Hal ini dilakukan melalui berbagai “metode pembinaan umat Hindu” yang telah ditetapkan dalam Pesamuan Agung Parisada Hindu Dharma Indonesia tahun 1988 di Denpasar yang terdiri dari : Dharma Wacana, Dharma Tula, Dharma Gita, Dharma Sadhana, Dharma Yatra dan Dharma Santi. 

2. Dalam kehidupan beragama Hindu umat diajak untuk tidak membeda-bedakan pandita dari segi asal kewangsaannya. Seorang pandita dapat “muput” (memimpin) upacara yang dilaksanakan oleh umat tanpa memandang asal-usul keturunannya. Umat Hindu dididik dengan baik untuk tidak membeda-bedakan harkat dan martabat para pandita Hindu dari sudut asal ” Wangsa”nya. 

3. Dalam persembahyangan bersama saat “Nyiratang Tirtha” (memercikkan air suci) umat diajak untuk membiasakan menerima “Siratan Tirtha” (percikkan air suci) dari Pamangku atau Pinandita. Ada sementara umat menolak dipercikkan Tirtha oleh Pamangku pura bersangkutan. Hal itu umumnya karena menganggap Pemangku itu Wangsanya lebih rendah dari umat yang menolak dipercikan Tirtha itu. Sikap seperti itu jelas menggunakan sistem Wangsa yang melecehkan swadharma seorang Pemangku. 

4. Sistem penghormatan tamu Upacara Yajna atau Atithi Yajna dalam suatu Upacara Yajna janganlah didasarkan pada sistem Wangsa, artinya jangan tamu dalam upacara yajna dari Wangsa tertentu saja mendapatkan penghormatan adat, bahkan kadang-kadang ada pejabat resmi yang patut mendapatkan pengerhonnatan yang sewajarnya, didudukkan ditempatkan yang kurang wajar dalam tata penghormatan itu. 

5. Umat Hindu hendaknya diajak untuk melaksanakan upacara yajna pawiwahan yang benar, seperti kalau ada pria yang mengawini wanita yang berbeda wangsa pada saat upacara “Matur Piuning” di tempat pemujaan keluarga pihak wanita, seyogyanya kedua mempelai bersembahyang bersama. 

6. Pandita seyogyanya tidak menolak untuk “Muput” upacara “Pawiwahan” (perkawinan) karena mempelal berbeda wangsa. 

7. Dalam hal Upacara Manusa Yadnya “Mepandes” (Potong Gigi), orang tua sepatutnya tidak membeda-bedakan putra-putrinya yang disebabkan oleh perkawinan berbeda wangsa.  

8. Tidak seyogyanya seseorang yang akan di-Dwijati / di-Abiseka kawin lagi hanya karena istrinya yang pertama dari wangsa yang berbeda. 

9. Perkawinan yang disebut kawin nyerod harus dihapuskan 

10. Upacara adat Patiwangi harus dihapuskan sejalan dengan hapusnya tradisi Asumundung dan Karang hulu oleh Dewan Pemerintah Bali Tahun 1951. 

11. Pemakaian bahasa dalam etika moral pergaulan antar wangsa, sepatutnya saling harga-menghargai agar jangan menimbulkan kesan pelecehan terhadap wangsa lainnya. 

Demikian Bhisama ini ditetapkan untuk memberikan tuntunan kepada umat Hindu demi tegaknya supremasi nilai-nilai agama Hindu di atas adat-istiadat. Dengan demikian adat-istladatpun akan tetap terpelihara dengan dasar kebenaran ajaran agama. Hendaknya umat Hindu tetap memelihara adat yang menjadi media penyebaran kebenaran Veda yang disebut Satya Dharma.

Ditetapkan di : Mataram, NTB

Pada Tanggal : 29 Oktober 2002 

Dharma Adhyaksa :  Ida Pedanda Gede Ketut Sebali Tianyar Arimbawa
Wakil Dharma Adhyaksa :   Ida Pandita Mpu Java Dangka Suta Reka

32 thoughts on “Bhisama PHDI tentang catur warna

  1. Yth. Bapak2 Pengurus PHDI

    bagaimana seorang pemuda yang diangap lahir dari keturunan sudra memberikan pemahaman kepada wangsa brahman, ksatriya dan waisya tentang persamaan hak kemanusiaannya?

    • luh de gebleg..lu pikir kgk ada wangsa brahmana,ksatria ato waisya yang jadi maling,garong,penjudi,tukang perkosa dan pendosa2 lainnya?goblok bangat lu.semogau baca komen ini.goblok.

  2. @widiani, saya bukan pengurus phdi, untuk urusan kasta ini marilah kita sbg generasi muda yang sadar akan persamaan hak. toh kita yang muda-muda ini akan menjadi tua kelak, dan menjadi contoh bagi anak – anak kita.

    mari buat regenerasi yang bagus. saya menampilkan isi bhisama ini tujuannya tidak lain adalah agar ada yang membaca saja dan membantu menyebarluaskan informasi ini.

  3. teori dr PHDI sdh diterbitkan, tinggal plaksanaannya di lapangan, bagaimana hal ini bisa terjadi kl masih ada keharusan dlm upacara kita untuk menggunakan pinandita2 or pemimpin upacara agama yg dr kasta tinggi. tnp perbaikan itu smua ini cm omong kosong…!!

  4. Puih…bagaimana hindu gak kerdil….hari gini masih memikirkan catur warna or kasta????? yang penting ayo kita amalkan ajaranTRI KAYA PARISUDA dalam kehidupan sehari-hari??????? jangan memikirkan soroh, jangan ngomongin soroh orang lain, dan biarkan soroh dipikirkan oleh sorohnya masing2 karena memang kita dilahirkan dari soroh yang berbeda. Dimata TUHAN semua manusia sama, tapi di masyarakat????? beda dong…….

  5. kasta tuh pikiran feodal…………………
    pikiran ingin dipuja, disanjung, dihormati………..
    disisi lain merendahkan orang (kasta) lain………..
    hanya orang picik saja yg ingin mempertahankan hal ini………
    lama2 pasti timbul bentrokan seperti dulu suryakanta vs bali adnyana…………………….
    kepicikan pemicu perang……..

  6. Pada jaman modoren dan serba instan ini penjelasan tentang catur warna sangatlah penting agar kita saling memahami, menggerti dan bertoleransi bahwasannya kita itu semua bersaudara namun yg membedakan adalah guna dan karma… Sehingga di dunia ini tidak ada manusia yg sepecial tetapi yg ada itu adalah karma yg sepecial tergantung atas perbuatannya..!

  7. Keputusan yang memaksakan agama hindu di bali,jangan pksakan seperti hindu di india atu di manapun,sebagai contoh ada agma di indonesia yang memaksakan agamanya sesuai dengan tempat asalnya,hasiinya mereka malah ngebom!!!Hindu kita adalah hindu dengat adat bali,kita hanya manusia baru kemarin jangan sampai di kutuk!!!

  8. apakah kasta dapat di beli ? mohon penjelasan ! karena disulawesi khusunya di propinsi sulawesi tengah banyak orang yang pertamanya dipanggil bape setelah pergi kebali dan pulangnya harus dipangil aji.

    • setau saya bape dan aji adalah sama aja. besa sor singgih aja. kalau msalah kasta bisa dibeli. ya tergantung orangnya. kembali kedalam diri sendiri.
      renungkan ke diri sendiri, kalau orang lain spt itu, lebih baik kita jangan seperti itu.

  9. Yg org2 tua aja yg masih mikirin kasta, yg muda ayo kita berdiri sama tinggi,duduk sama rendah, yang merasa sudra jgn terlalu mengagungkan kan kasta yg lbh tinngi

  10. biar ngaku dari kasta superior kalo jadi sopir tetap parekan atau jongos namanya, yang penting tingkatkan wawasan, profesionalisme, asah nurani kemanusiaan dan sadari bahwa semua makhluk berasal dari paramatma yang sama dan kembali hanya berbekal karma wasana bukan kasta/soroh

  11. semua orang adalah saudara…..baik itu hindu maupun agama lain…mari kita junjung tinggi demi kemajuan generasi muda……jangan mau diajak dan diadu domba oleh orang2 yang trus mendebatkan soroh atau warga,kasta maupun caturwarna……soroh,wanga and caturwarna merupakan warisan leluhur kita semua yang kita lestarikan……lihat leluhur kita dulu betul2 DAMAI dan tidak memperdebatkan masalah ini……jangan sampai kita mengabaikan warisan leluhur and keluarga kita kena KUTUKAN para leluhur ……pikirkanlah kita saling hargai,saling hormati sesama manusia……..

  12. soroh atau klan itu adalah warisan leluhur tidak usah di perdebatkan. tidak ada soroh atau klan yang paling tinggi atau paling rendah. Hanya karma yang membedakan kualitas manusia. yang penting sekarang adalah bagaimana kita berpikir dan berbuat demi kemajuan Umat Hindu baik mental,fisik maupun spitual. mari kita buktikan walaupun kita minoritas tapi mayoritas dari segi kualitas.

  13. Bisama telah ditetapkan oleh Sabha Pandita, dalam Mahasabha, di manapun itu, wajib kita hormati dan berusaha untuk melaksanakan dengan benar. Tidak untuk diperdebatkan, bahkan membuat kita saling cerca. Wangsa pada awalnya juga ada karena Warna yang dilakoni secara turun temurun. Kelahiran pada wangsa tertentu juga adalah akibat karma. Intinya adalah mari kita saling introspeksi diri, mendalami nilai-nilai yang paling hakiki dari ajaran Dharma serta meningkatkan kwalitas hidup sesuai karma dan guna. Bagi kita yang kebetulan terlahir di lingkungan wangsa yang dimuliakan hendaknya tetap menjaga bahkan meningkatkan kemuliaan itu dengan karma dan guna. Demikian pun bagi kita yang kebetulan terlahir di lingkungan wangsa yang direndahkan, jangan merasa direndahkan, amalkanlah karma dan guna yang mulia, sehingga lambat laun kemuliaan itu pun akan diakui oleh masyarakat banyak, tanpa harus meminta untuk dimuliakan. Setidak-tidaknya kelak kita akan dilahir di lingkungan wangsa yang dimuliakan.

  14. Om Swastyastu
    Info apapun yang lahir, apalagi itu dari PHDI mari kita sikapi. Sikap yang utama adalah mencari positifnya, kalau kebetulan kita di kelompok yang dipandang dihormati malah kita terkena beban, kita harus ngasi contoh yang baik, jika kita di kelompok yang lain jangan merasa direndahkan toh sekarang ini kita tak dikasi sesuatu yang jelek dari mereka. bahasapun satu kelompok dengan kelompok lain tetap plapan. Keberatan kita apa? Toh orang yang lahir tak pernah minta saya harus dilahirkan di kelompok ini, kelompok itu? Kalau macam anak muda yang suka berbahasa kasar pada orang lain, itu ya.. jangan ditiru. Apalagi yang semacam itu dapat di golongan dihormati ya… bahasanya akan kasar amat? Karena itu dasarilah ajaran Dharma, Tri Kaya Parisudha, dimana saja kita akan aman? maaf ya… begitu kira-kira. Om Shantih, Shantih, Shantih Om

  15. OSSO
    Apa yang disampaikan oleh saudara2 semua benar adanya.Kita hidup idi dunia hanya sementara yang langgeng dikenang setelah mati hanya perbuatan kita semaca hidup.
    Berpeganglah pada agaran agama yang kita yakini salah satunya adalah ajaran TRI KAYA PARISUDA, kalau kita yakin akan hal itu dimana saja kita hidup dari wangsa apapun kita berasal (katanya) pasti aman dan selamat. Mari kita bergandengan tangan untuk persatuan dan kesatuan sesama manusia yang diciptakan oleh YME.

  16. Om Swastyastu, Trima kasih… trima kasih. “Bahasa menunjukkan bangsa”. Rangkaian kata dan kalimat-kalimat yang santun dalam penyampaian pendapat dalam media publik ini, sebagai gambaran senyum kedamaian dalam hati penulisnya, pun semoga demikian yang dapat dirasakan oleh para pembaca yang lain. “SATYAM EVA JAYATE” Kebenaran akan selalu berjaya. Tetaplah dalam tuntunan Dharma dalam WEDA, sebagai jalan menuju “Sangkanparaning Dumadi”!!! “Om Sahtih, Santih, Santih, Om”
    Semoga Damai, Damai di hati, Damai di Dunia, Damai selalu, dalam lindungan Hyang Widhi Wasa.

  17. Om Swastystu… suksma majeng ring Ida Hyang Widhi.. sampun nuntun tyg preside mace artikel sane becik niki… lan suksma majeng ring penulis sane sampun arse ledang nulis lan preside keuningin antuk sameton irage sareng sami… suksma… dumogi irage sareng sami state ngamolihang krahayuan lan pemargi sane patut… Om Sahtih, Santih, Santih, Om

  18. Bgaimanapun jg klu mw jujur ..praktek KASTA di Bali smpai detik ini hrus diakui memang msih ADA..wlu penerapanya ‘saru gremeng”berselimut ADAT…penyebabnya antra lain:
    1.sbgaian msyrakat Bali tentunya yg dri glongan/soroh tertentu trutama yg cra brfikirnya msih Kolot n Feodalisme tentunya msih dijadikan suatu kebanggaan di msyrat,pengkultusan soroh bhkan nmpak seklai sllu mnganggap diri lbh tinggi/mulia/terhormat dripada soroh2 yg lain.
    2.sprti kita kthui brsama,akhir2 ini msyrkat Bali mkin sadar tuk mengetahui/menelusuri silsilah/asal usul klrganya dan itu hal yg sngt fositif untuk mnunjukan rasa bhakti kpd leluhur tapi…….ktika diktahui plgi trnyata dri soroh yg mrka anggap terhormat maka.. trutama mrka2 yg brfikir kolot n mmliki egoisme yg lbih..akn dijadikan momentum tuk mnunjukan jati diri,dibangga2kan kpd orng lain….dan hsilnya ..hnyalah PERPECAHAN & PERMUSUHAN cntoh nyata sprti yg prnh di ekpos media:;
    kasus di Bungaya krngasem[titel/gelar] Gulingan,mengwi[gelar/titel],Gianyar[sya lupa tempatnya…ksus pnglompokan diri pembntukan bnjar baru] Cemagi,Mengwi[titel.gelar] bhkan prnh saya bca bhwa dulu msyrakat Sasak,Lombok gk jdi msuk Hindu hnya gara2 bingung mw dimasukan ke KASTA yg mana..?dan sya sngt yakin msih bnyak kasus2 yg lain yg berkaitan dgn Kasta yg tak terekpos timbul kepermukaan…buktinya[makanya sya menyembunyikan jati diri] di Lingkungan sya sendiri dan jg beberapa di desa tetangga,sdh nmpak gejala2 sprti itu,.. tpi walau cuma baru skdar desas desus’pekrimik smata Tapi sya yakin.jka nnti rasa kebersamaan,saling harga menghargai dan kesadaran diri itu hilang..akan mnjadi BOM WAKTU yg kpan saja siap meledak !!!

    Di masa peradaban jaman yg mkin maju n modern ini jgnlah malah berfikir kmbli jauh keblakang..ingt kita HINDU dan di kitab2 suci kita tidak prnh tertulis kata2 KASTA dan itu bukan ajaran AGAMA HINDU yg kita anut di BALI ini…ingat ADAT itu tdk bersifat Kekal tpi bisa di rubah di sesuaikan dgn peradaban jaman..ingt kisah SATi[mnceburkan diri ke api pembakaran jenasah] kisah pembuangan/pengucilan bayi yg lhir kembar buncing …itu cuma sglintir kisah2 yg tragis n bodoh, yg prnh berlaku di muka bumi ini…..contohlah beliau2 yg berhati bersih n berjiwa besar sprti alm Ida bgs Mantra,Oka puniatmaja,ida pdanda sebali tianyar dll…..

    maka dri itu mari mulai dri anda2 yg terpelajar n berfikiran maju,faham akn hak azasi manusia tuk mulai mengakhiri KEKELIRUAN ini…..krn kekeliruan itu msih bsa di perbaiki…..
    akhir kata..jika ada slh kata..ampura ping banget,ten wenten manah jgi pacang nasikin segara,.niki wantah skdar pemikiran yg datang dri hati nurani…salam damai..shanti..

  19. JANMANA JAYATE SUDRAH…SAMSKARAIRDWIJA UCYATE….setiap orang dilahirkan sudra….setelah di dwijati/di diksa dia disebut brahmana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s